Persatuan Umat dalam Perspektif KH. Noer Alie


K.H. Noer Alie bersama K.H. Sholeh Iskandar dan Mohammad Natsir





PERSATUAN UMAT DALAM PERSPEKTIF K.H. NOER ALIE

I. MUKADDIMAH


Tidak ada yang meragukan kesuksesan K.H. Noer Alie dalam membangun dan memperjuangkan ummat Islam, terutama di daerah Bekasi. Perjuangan beliau kemudian memperoleh penghargaan berupa Bintang Mahaputtera dan pengakuan menjadi Pahlawan nasional. 

Tulisan ini lahir karena adanya keinginan untuk menggali pemikiran dan karya agung K.H. Noer Alie. Meski beliau tidak meninggalkan karya tulis yamg dapat dijadikan rujukan, tapi karyanya terserak di berbagai , khususnya di bidang sosial dan pendidikan. Dari situlah tulisan ini diangkat, termasuk dari cerita yang diperoleh dari pengalaman para keluarga,  dan para muridnya. Namun, kali ini, bahasan tulisan ini hanya manyangkit aspek ideologi dan persatuan, dua sisi yang dianggap penting saat ini. Semoga tulisan singkat ini dapat menjadi bahan renungan dan refleksi bagi kita , khususnya kalangan muda dan generasi berikutnya.


II. IDEOLOGI DAN PANDANGAN-DUNIA TAUHID

Ideologi dan  pandangan dunia-Tauhid (Islamic Worldview) dapat diartikan sebagai dasar dalam membangun masyarakat. Menurut K.H. Noer Alie, Islam adalah agama yang sempurna sehingga memiliki ideologi sebagai penafsiran as ajaran-ajarannya yang bersifat abadi dan final. Implementasi ideologi menurut beliau adalah “Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur” (Q.S. Saba: 12). 

Menurut K.H. Noer Alie Islam adalah agama yang kaafah, lengkap. Ia meliputi seluruh aspek kehidupan. Karena ia ditujukan untuk kesejahteraan manusia ia memiliki prinsip yang dijadikan dasar dalam membangun masyarakat. Prinsip-prinsip itu yang dijadikan ideologi. 

Ideologi dan pandangan-dunia (Worldview) ummat Islamadalah kalimat Tauhid. Kalimat tauhid ini harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari, baik kehidupan agama, politik, ekonomi, maupun sosial-budaya. Berpegang pada kalimat Tauhid laa ilaaha illallah itu memiliki makna:


√ Tidak ada yang patut disembah kecuali Allah 
√ Tidak ada tempat meminta kecuali Allah 
√ Tidak ada pemberi rizki kecuali Allah 
√ Tidak ada hukum yang adil kecuali hukum Allah 
√ Tidak ada bencana yang terjadi kecuali dengan izin Allah


Karena itu apabila ummat Islam ingin maju, maka tidak ada pilihan kecuali menjadikan Allah sebagai tujuan pembentukan masyarakat. 

Dalam sebuah masyarakat yang belum memahami Islam sebagai agama yang kaffah, maka ideologi Islam harus diperjuangkan menjadi dasar meskipun risiko yang muncul adalah kemungkinan akan dimusuhi lawan dan dikucilkan teman-teman.


Keteladanan Perjuangan Ideologi

Di masa Orde Baru, K.H. Noer Alie mengalami sebuah benturan , ketika harus menerima Asas Tunggal. Tapi ketika arus politik itu tak bisa lagi dihindari, K.H. Noer Alie menyebut hal itu sebagai kekalahan ulama dan umat Islam pada umumnya. Sikap beliau saat itu menolak memimpin lembaga yang asasnya Pancasila.

Lembaga yang sejak didirikan dan dipimpinnya sendiro yaitu Yayasan Pembangunan, Pemeliharaan dan Pertolongan Islam (YP3I) diubah namanya menjadi Yayasan , dan beliau sendiri mengundurkan diri dari jabatan Ketua Yayasan. Hal ini dilakukannya sebagai sikap konsistensi menolak pemberlakuan asas tunggal selain asas Islam dalam organisasi kemasyarakatan.

Dalam proses, beliau memang bukan pasrah berdiam diri. K.H. Noer Alie memberikan sikap terbuka di depan Fraksi ABRI tentang penolakannya atas asas tunggal. Hal ini dilakukan beliau sebagai cermin penolakan atas RUU Keormasan yang di antara isinya adalah pemnerlakuan asas tunghal bagi kehidupan sosial dan politik. Menurut beliau, asas tunggal akan memasung kebebasan masyarakat dalam memilih dasar kehidupan.

Pada tahun 1986, bersama teman-temannya, K.H. Noer Alie selaku ketua BKSPP membuat pernyataan politik yang isinya menolak rencana diberlakukannya Asas Tunggal dalam organisasi massa.

Untuk memperkuat pemahaman (dan resistensi) masyarakat terhadap ancaman akidah -terutama asas tunggal- sejak tahun 1985 K.H. Noer Alie melakukan pengajian keliling di masjid-masjid di sekitar Kabupaten Bekasi. Pengajian keliling ini disambut dengan antusias oleh segenap masyarakat Bekasi yang memang ingin mendengarkan ceramah beliau, tetapi selalu tidak sempat menghadiri pengajian beliau di masjid Attaqwa, Ujungharapan, tempat beliau mengajar pada setiap malam Minggu.

Tidak hanya masalah Asas Tunggal, sebagai praktisi politil Masyumi, K.H. Noer Alie dan teman-temannya melakukan walk out dari sidang konstituante di saat pembahasan Demokrasi. Sebagai ulama, beliau setuju demokrasi, dan dalam banyak hal ia memang menunjukan sikap sebagai seorang yang kental berdemokrasi. Tapi ketika Bung Karno mencoba memaksakan penafsiran demokrasi dengan kehendaknya sendiri, yakni demokrasi terpimpin, K.H. Noer Alie bersama Masyuminya melakukan walk out.

Dalam penolakannya terhadap PORKAS (perjudian terselubung melalui simbol olah raga), K.H. Noer Alie menggalang sikap penolakan itu. Kapasitasnya sebagai ketua BKSPP (Badan Kerjasama Pondok Pesantren) dimanfaatkan untuk melahirkan sikap penolakan itu, yamg ditandatangani oleh ratusan ulama, khususnya ulama dari Jawa Barat.

III. PERSATUAN UMAT DALAM PANDANGAN K.H. NOER ALIE

Lahir sebagao bagian dari masyarakat desa,  K.H. Noer Alie memang tidak melepaskan dirinya dari tradisi-tradisi masyarakat desa yang berciri kolektivitas. Dengan keyakinan idealnya itu, K.H. Noer Alie menggalang persatuan umat. Dari level yang tinggi misalnya mengakomodasi tokoh-tokoh NU dan Muhammadiyah, sampai aksi langsung menggerakkan kehidupan masyarakat untuk bersatu padu.
Persatuan merupakan jalan hidup K.H. Noer Alie. Beliau senantiasa menekankan pentingnya persatuan umat demi berhasilnya suatu tujuan.

Prinsip Tentang Persatuan

Agar berhasil mencapai tujuan, umat Islam harus bersatu. Tiak ada tujuan yang dapat dicapai apabila umat Islam terpecah belah dan berseteru. Bagi K.H. Noer Alie, persatuan hanya berarti apabila ditujukan untuk dan berada di atas semua golongan. Hal ini berarti adanya pengakuan terhadap asumsi bahwa umat terdiri dari berbagai golongan dan aliran.

Menurut K.H. Noer Alie, persatuan hanya bisa terwujud apabila setiap pihak mwmberikan sumbangsih dan siap berkorban. Apabila ada pihak yang mementingkan (mendahulukan) kepentingannya sendiri padahal kepentingan itu mengharuskan pengorbanan kepentingan itu, maka rsatuan yang dicita-citakan tidak akan terwujud.

Keteladanan Membangun Persatuan Umat

Banyak contoh yang dapat dilihat dalam kehidupan K.H. Noer Alie yang menunjukan bahwa beliau amat mementingkan persatuan di antara umat Islam. Misalnya dalam persatuan di bidang politik, bersama pemimpin Islam lainnya beliau ikut mendirikan Partai Masyumi sebagai wadah satu-satunya umat Islam. Sebagaimana dimaklumi, Masyumi kemudian menjelma sebagai partai Islam yang besar dan kuat, disegani kaqan dan lawan.

Setelah Masyumi membubarkan diri karena tekanan rezim Orde Lamapada tahun 1960, beliau tetap menginginkan ada partai tunggal bagi umat Islam. Cita-cita itu terakomodasi dengan adanya fusi partai Islam dalam PPP pada tahun 1973. Karena merasa adanya harapan dalam partai hasil fusi ini beliau pernah ikit dalam salah satu kampanye di Bekasi.

Sikap tegasnya tidak membuat orang sakit hati. Misalnya Adam Malik (Menlu saat itu) berkunjung ke Ujungharapan (waktu itu masih bernama Ujungmalang) ia menawarkan kepada K.H. Noer Alie dua hal: Pertama, ikut ke dalam partai di mana Adam Malik menjadi ; dan kedua, mengganti nama kampung Ujungmalang menjadi Ujungharapan. Beliau menolak tawaran yang pertama, tapi menerima dengan senang hati tawaran yang kedua. Hal ini dikarenakan beliau merasa bahwa beliau memiliki teman di berbagai partai, termasuk yang ada dalam parta , sehingga apabila beliau ikutndalam salah satunya, maka teman di partai lain akan menjaga jarak.

Contoh lain ketika pulang dari Makkah, yang dilakukan oleh K.H. Noer Alie adalah membangun masjid Attaqwa. Masjid ini gabungan dari dua masjid, yakni yang dipimpin Guru Mugni (di Ujungmalang Kidul yang saat ini menjadi Masjid Ghair Jami Annur)  dan masjid yang dipimpin H. Anwar (di Ujungmalang Lor yang saat ini menjadi Masjid Albaqiyatus Shalihat). Beliau kemudoan mengembangkan konsep masjid dalam membangun masyarakat, dengan mendirikan mushalla-mushalla di bawah naungan Dewan Masjid Attaqwa.

Kepada para muridnya, K.H. Noer Alie berpesan agar menghindarinmasalah furu'iyah untuk enjaga kekompakan dan persatuan dengan teman-teman lain yang berbeda mazhab fikih. Hal ini bertujuan untuk memelihara persatuan di antara teman-teman yang memperjuangkan Islam. Persatuan umat bagi K.H. Noer Alie menjadi lebih penting daripada sekedar persoalan-persoalan furu'iyah.

Pada tahun 1968, K.H. Noer Alie turut mendirikan Majelis Ulama se-Jawa Barat. Seiring berdirinya Majelis Ulama di Jawa Barat, beberapa provinsi kemudian mengikuti jejak Jawa Barat,  misalnya Sumatera Barat, Sumateta Selatan dan beberapa daerah lain mendirikan majelis-majelis ulama di tingkat provinsi. Dari Majelis Ulama di daerah-daerah inilah pemerintah Orde Barukemudian menggiringnya menjadi Majelis Ulama Indonesia dan Buya Hamka terpilih sebagai ketua umumnya yang pertama.

K.H. Noer Alie juga mendirikan Pesantren Bahagia di Bekasi. Lokasi pesantren itu terletak di Kampung Dua Ratus, Bekasi, yang sekarang menjadi markas Kodim 0507. Yang menarik dari pesantren ini adalah, K.H. Noer Alie melibatkan beberapa guru darinMuhammadiyah dan NU, direkrut secara seimbang. Misalnya tetdapat nama K.H. Abdurrahman Shodri, K.H. Muhajirin, dan K.H. Abu Bakar dari unsur NU. Sedangkan Anis Taminuddin, Samani dll, dari unsur Muhammadiyah. Sebuah upaya pemersatuan umat tampak begitu kental di pesantren ini.

Pada tahun 1951, berdiri lagi Yayasan Pembangunan, Pemeliharaan dan Pertolongan Islam, disingkat YP3I. Salah satu amal usahanya adalah mendirikan lembaga pendidikan. Ada pesantren putera dan puteri, ada ibtidaiyah dll. YP3I berubah menjadi Yayasan Attaqwa pada tahin 1986 karema adanya usulan dari intern dalam rangka penyeragaman nama di lingkungan perguruan.

Alhasil, begitu banyak jejak peninggalan K.H. Noer Alie yang bisa menginspirasikan setiap orang. Tapi seperti dipesankan K.H. Amin Noer, mengenang perjuangan K.H. Noer Aliebbisa dilakukan dengan membangun semangat juangnya, mengembangkan dasar-dasar pemikiran positifnya.

IV. KHATIMAH

K.H. Noer Alie adalah contoh kehidupan sosok pemimpin yang memiliki ideologi tegas dan lugas. Sedangkan alat untuk memperjuangkannya adalah persatuan umat. Tanpa persatuan umat, ideologibtidak akan bisa mencapai tujuannya. Ideologi yang diperjuangkan K.H. Noer Alie adalah terlaksananya syariah Islam dalam rangka membentuk negeri yang makmur dan sejahtera yang diridhai Allah Swt. Untuk bisa mencapai cita-cita itu, para penerus hendaknya bisa melakukan berbagai pengembangan dan pembaruan-pembaruan agar dasar-dasar pemikiran K.H. Noer Alie lebih berkembang. 


Sumber: Persatuan Umat dalam Perspektif KH. Noer Alie oleh Majelis Mudzakaroh Attaqwa 
Saturday, 8 July 2017

Seikat Tali Persaudaraan


    
  "Namaku Manila, panggil saja dengan nila, itu nama kecilku", katanya ketika kami berkenalan pada suatu hari dalam bis angkot yang membawa kami bersama ke satu tujuan, yaitu jln Semangka I, tempat di mana aku tinggal sekarang. “Hmm...nama yang unik, mengingatkanku pada sebuah ibu kota, tepatnya ibu kota Thailand. Nama yang sangat mudah diingat”, pikirku.  Setelah perkenalan itu, baru aku tahu kalau mbak Nila ini adalah keponakan om dan tante Budi, tetangga sebelahku. Rupanya ia baru datang dari Yogya seminggu yang lalu.

       "Om dan tante menginginkanku tinggal bersama mereka untuk sementara waktu ini. Yah..sekedar untuk mengusir rasa sepi dalam kehidupan mereka yang sampai sekarang ini belum dikaruniai seorang anak pun. Semoga dengan kehadiranku dapat menghibur hati mereka, sungguh kasihan mereka... " Itu jawabnya ketika kutanyakan apa tujuannya datang ke kotaku ini.

        Om dan tante Budi  memang belum mempunyai anak sampai usia pernikahan mereka yang ke lima belas ini. Sementara untuk mengadopsi mereka masih berkeberatan. Om dan tante Budi juga pernah bercerita kalau mempunyai keponakan perempuan yang juga anak tunggal dari kakak perempuannya om Budi yang hampir menyelesaikan kuliahnya di Universitas Gajah Mada Yogyakarta. "Pasti mbak Nila ini yang dimaksud mereka”, pikirku.

          Setelah hampir satu bulan kami berkenalan, tak terasa kami begitu akrab satu sama lain. Di mana ada mbak Nila aku pun diajak serta, ke pengajian Majlis Ta'lim, ke perpustakaan, sampai untuk mengaji Alquran pun aku sering diajaknya. Semua apa yang ia berikan membuat ada sesuatu yang menyejukkan dalam hati. Alhamdulillah, aku sudah mulai rajin sholat, mengaji, nggak suka jalan-jalan ke mall lagi. Pokoknya aku sekarang sedikit aliman walaupun jilbab belum kukenakan karena aku belum siap untuk memakainya. Begitu juga kalau aku akan pergi, kuingin mbak Nila besertaku selain  menjadi teman jalan, mbak Nila juga dapat memberikan masukan-masukan bila aku ingin membeli sesuatu. "Pikirkan dik, apakah itu benar-benar bermanfaat untuk adik", itu yang selalu ia katakan bila aku meminta pendapatnya. Yah...kami begitu dekat satu sama lain seakan kami adalah saudara kandung, dan kebetulan juga aku anak tunggal. Walaupun mbak Nila jauh lebih tua lima tahun dariku, tapi itu tak menjadi pemisah dalam keakraban kami. Mbak Nila di mataku begitu bersahaja, berwibawa, penyantun, lembut, cantik dan anggun dengan jilbab yang selalu dikenakannya kemana pun ia pergi, kecuali kalau pas di rumah.

                                                      *   *   *    *    *
        Setelah sekian lama aku menjalin persaudaraan dengannya, membuat aku mengikuti jejaknya. Yah... kini aku telah memakai jilbab dan berbusana muslimah. Ketika kukatakan niatku itu padanya, ia merangkulku penuh bahagia dan langsung menghadiahkanku sebuah jilbab putih yang baru dibelinya minggu yang lalu. Aku bahagia sekali.

        Mama dan papa? Alhamdulillah tidak menjadi masalah. Mereka pun mendukung prinsipku. "Anak gadis mama dan papa jadi tambah cantik deh...", puji mereka ketika pertama kali melihat diriku memakai jilbab. Aku hanya tersenyum senang, bahagia.

        Tapi tidak bagi teman-temanku di SMUN 10. Mereka kaget karena si bintang kelas yang selalui menjuarai berbagai perlombaan antar sekolah di berbagai bidang kesenian, olah raga dan pendidikan memakai jilbab. Santi yang dikenal mereka seorang anak yang lincah dan periang juga anak gaul memakai selembar kain yang bagi mereka itu penghalang gerak seorang wanita, pengukung emansipasi. Mereka tidak mau menerima keadaanku, mereka menginginku seperti Santi yang dulu yang bisa diajak kemana aja.

         Santoni, termasuk dari mereka yang yang menentang jalanku ini. Sang Idola cewek-cewek SMUN 10 itu tidak setuju dengan penampilanku sekarang ini. Kuno, terbelakang, tidak modern, katanya ketika melihatku dengan jilbab putihku. Aku terhenyak mendengar makiannya. “Oh....Tuhan, kenapa Santoni beranggapan seperti itu. Seharusnya ia bangga  kalau aku dapat mengamalkan perintah Allah secarah kaffah”.

       "Itulah ujian San. Bersyukurlah Allah berkenan menguji Santi yang ingin istiqomah di jalan-Nya.Ketahuilah bila seseorang hamba diuji Allah berrti Allah menginginkan hamba itu dekat dengan-Nya, karena Allah ingin mengetahui kadar ketaqwaannya...", tutur mbak Nila ketika kuceritakan masalahku. Dengan panjang lebar mbak Nila menjelaskan tentang pergaulan dalam Islam dan ia pun berusaha mengeluarkanku dari masalah yang sedang membelengguku.

       "Istiqomah ya dik, ikuti kegiatan Rohis yang ada di sekolahmu, insya Allah kau akan dapati masih banyak saudara-saudaramu yang mencintai dan menyayangimu karena Allah. Tahan uji adalah salah satu sifat seorang mukmin", kata mbak Nila lagi sambil tersenyum ke arahku, senyuman yang membuat tekad di hatiku untuk menjadi seorang wanita sholehah yang sering di sebut-sebutnya. Tanpa terasa air mataku mengalir terharu dengan penuturannya yang membuat hatiku plong.

                                                       *    *    *    *    *
          Alhamdulillah.....selain mbak Nila, ada Ima, Ina, Ani, Dina, Opi, Yanti dan banyak lagi teman yang memberikan support kepadaku, mereka berusaha menguatkan tekadku. Dari persaudaraan yang mereka ulurkan seakan berkata kalau aku tidak sendirian berjalan di jalan ini, masih banyak saudara-saudaraku yang bisa kuajak kerja sama, saudara-saudaraku yang baru aku ketahui bahwa merekalah saudara-saudaraku yang mencintaiku dan menyayangiku karena Allah.Kini aku tidak sendiri lagi terutama semenjak aku masuk dalam anggota rohis sekolah.
       
                                                       *   *      *    *     *
        "San...malam minggu ini kamu ada di rumah kan!?" Tanya Santoni suatu hari.
        "Duh...gimana ya Ton. Malam minggu ini aku harus menginap ke rumah nenek, habis udah janji sih sama beliau sekalian hari minggu kan hari libur", elakku.

        "Aduh Santi, kok banyak sekali alasanmu bila aku ingin apel malam minggu di rumahmu. Minggu kemaren kamu bilang sibuk mempersiapkan ujian Kimia, minggu kemarennya lagi kamu bilang mau nemani mama dan papamu memenuhi undangan makan malam relasi kerja papamu, dan minggu kemarennya lagi.......aduh, aku nggak ingat lagi alasan-alasanmu. Santi.., sejujurnya apakah kau tidak ingin bersamaku lagi merajut hari-hari kita dengan cinta?".

        "Maaf Ton, aku tetap tidak bisa. Selamat tinggal, aku masih punya banyak kerjaan", jawabku tegas. Tak kuhiraukan lagi panggilan Santoni, aku bergegas pergi. Ah...ada yang mengiris dalam hatiku, cinta sang coverboy yang telah berhasil kuraih harus terpaksa aku lepaskan demi meraih cinta yang sebenarnya, cinta hakiki. “Maafkan aku Ton”...bisikku.

                                                      *     *     *     *      *
         "San, ayo naik...!" Pinta Santoni kepadaku untuk naik di motornya setelah kami pulang dari sekolah.

         "Mmmakasih...Ton, aku naik bus aja bareng sama teman-teman", tolakku. "Teima kasih atas ajakanmu".

         Kutangkap tatapan tajam dari mata kelamnya, aku tak tahu apa itu, marahkah ia, kesalkah karena nggak pernah-pernah aku menolak  permintaannya. Tanpa berkata lagi, Toni langsung tancap gas. Tanpa kusadari banyak teman-teman yang menyaksikan adegan drama ini.

        "Tumben San, nggak mau di bonceng. Coba kalau Santoni tadi nyuruh aku yang duduk di belakangnya, wah...takkan bakal kutolak", celoteh  Rina yang langsung disambut riuh oleh teman-teman.

         "Eh San.., hati-hati lho kalau kamu nggak mau lagi sama si ganteng. Masih banyak yang menginginkan cintanya..." ujar Sari mewanti-wanti diriku.

                                                       *     *     *     *     *                      
         Kini siswa-siswi SMUN 10 geger, pasalnya aku putus resmi sama Santoni. Aku merasa lega sekali ketika kuucapkan kata "putus" itu. Kedudukanku sekarang bagaikan seorang selebritis yang jadi bahan gunjingannya para pers, di mana-mana orang orang membicarakan tentang putusnya hubungan kami.

         "Wah...bakal ada kesempatan nih merebut cinta sang Arjuna". Itu kata mereka. “Yah..terserah apa kata kalian, tapi aku mengetahui apa yang terbaik untukku”, bisikku.

                                                        *     *      *       *       *
          Sekarang hari-hariku kulalui dengan penuhnya kegiatan di rohis. Tapi tidak dengan Santoni, kelihatannya ia tidak seperti hari-hari sebelumnya. Kata teman-temannya Santoni sering bolos dari sekolah. Mendengar kabar itu aku jadi sedih, akukah penyebabnya? Kukuatkan hatiku, “berilah hidayah-Mu kepadanya sebagaimana Engkau memberikan hidayah-Mu kepadaku”, doaku dalam hati.
          "San, itu ditunggu si Ina, jadi rapat nggak?" tanya Atika.

          "Oh ya..", tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku, astaghfirullah....

                                                         *      *    *       *        *
          Tahun berganti tahun. Kini aku telah menamatkan sekolahku di SMUN 10 dengan menggandeng Nem tertinggi di sekolahku. Alhamdulillah....syukurku. Tak lupa kutunjukkan keberhasilan itu pada mama, papa dan juga mbak Nila. Semuanya merasa senang dan gembira dengan prestasiku. Mama dan papa berniat mengajakku berlibur ke Amsterdam. Mbak Nila juga tidak ketinggalan ikut menghadiahkan sebuah Alquran kecil padaku.

          "Semoga tiap kali membaca Alquran  ini, dik Santi dapat teringat dengan mbak Nila", ucapnya. “Ah...mbak Nila, tanpa hadiah pun aku akan tetap mengingat persaudaraan kita ini. Kaulah yang mengajakku untuk mencapai hidayah-Nya”. Kupeluk tubuhnya, aku terharu dengan segala perhatiannya selama ini.

           "Dik Santi, percayakah dik Santi, kalau ada pertemuan pasti ada perpisahan?" tanya mbak Nila.

            "Ya.. percaya", jawabku.

            Mbak Nila tersenyum.,"begitu juga dengan kita". Perkataannya ini membuat aku langsung berpaling kearahnya.

            "Maksud mbak?" tanyaku.

            "Dik Santi jangan bersedih ya..., sepertinya kita akan sementara berpisah.  Mbak akan pulang ke Yogya, ada telegram dari ayah dan ibu yang menyuruh mbak harus cepat pulang".

            "Jadi mbak akan pergi meninggalkanku?".

            "Yah begitulah dik..., mbak akan menikah".

            "Apa mbak?, mbak akan menikah?". Mbak Nila mengangguk.

Entah perasaan apa yang sekarang ada dalam hatiku, bahagia atau sedih. Bahagia.., wajar karena kebahagiaannya kebahagiaanku juga. Mbak Nila bahagia karena akan menggenapkan dinnya yang separuh. Sedih..., itu pun ada karena kami akan berpisah, entah itu buat sementara atau selamanya.

             "Mbak, sebenarnya aku ingin kita selalu dapat bersama".

             "Yah..itu rencana manusia, tapi bila Allah menghendaki lain, kita tidak bisa mengelak dari kehendak-Nya. Dik San ti jangan bersedih ya, insya Allah...Allah akan mengganti yang lebih baik dari mbak. Yang penting selalulah istiqomah di jalan-Nya. Kuatkan hatimu dalam menggarungi ujian yang menghampiri, selalu bersabar. Dengan begitu engkau akan merasa Allah dekat denganmu. Dan terakhir, sering-sering ya kirim surat ke mbak, insya Allah mbak akan balas. San.., mbak tidak ingin mendengar setelah mbak pergi  kalau Santi nggak semangat lagi dalam hari-harinya".

           "Terima kasih mbak. Semoga mbak tidak melupakanku. Dan aku akan selalu mengingat mbak sampai kapan pun, karena mbak sudah seperti saudara kandungku sendiri, dan melalui mbak juga aku menemukan cinta sejati dan persaudaraan karena Allah. Doakan aku ya mbak semoga aku tetap istiqomah, begitu juga dengan mbak, semoga selalu istiqomah bersama dengan suami mbak Nila". Tak terasa mataku basah..., aku menangis, mbak Nila juga.  Kami saling berpelukan seakan kami tidak ingin kehilangan satu sama lain. 

                                                         *     *     *      *     *
            Mbak Nila telah pergi  tapi seakan ia tidak pernah pergi  dari hatiku. Ia selalu berada dalam hari-hariku. Kupandangi potonya yang tersenyum manis. Tak terasa gumpalan-gumpalan bening kembali menggenangi bola mataku. Bila teringat hari-hari yang kami lalui dengan keceriahan dan cengrama, aku akan selalu menangis. Tapi aku akan selalu berdoa semoga suatu saat kita kan dapat bertemu kembali.


                                                         *     *      *     *      *

Kreasi edisi 19
Thursday, 15 June 2017
Tag :

Cinta Dunia dan Faktor Kemunduran Umat

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».

Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Lalu seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?”Rasul menjawab ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih yang mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah al-Wahan itu?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745)

Secara garis besar. ada dua hal yang dapat kita petik dari hadis di atas yang diriwayatkan oleh sahabat Tsauban ra., yaitu faktor kemunduran dan kemajuan Umat. Berikut faktor-faktornya;

Faktor-faktor kemunduran Umat:

1.       Jauhnya keluarga muslim dari sosialisasi keluarga dengan karakter keislaman.
2.       Adanya contoh dan peranan yang tidak baik dari generasi terdahulu kepada generasi penerus. Lingkungan terkecilnya adalah keluarga. Dimana orangtua jauh dari peran dan percontohan yang layak kepada anak-anaknya.
3.       Berkurangnya dakwah sosial di tengah masyarakat seperti perhatian kepada dhuafa, orang-orang miskin, anak-anak putus sekolah dan lainnya.
4.       Perang pemikiran dan candu berupa konten-konten pronografi dan pengedaran narkoba yang dapat melemahkan generasi muda muslim dan bangsa.
5.       Perang media berupa penyebaran dan penggiringan opini public yang bersifat menyerang umat Islam.
6.       Ketidak tahuan dan menjamurnya aliran sesat dalam beragama.
7.       Lemahnya penegakkan hukum dan nilai-nilai luhur keislaman.


Faktor-faktor Kemajuan Umat:

1.       Aqidah : keimanan adalah factor utama kekuatan umat ini. Iman yang kuat akan membawa umat pada persatuan dan memperkuat tali-tali agama Allah, sehingga umat tak mudah goyah dan lekang oleh godaan sesaat.

2.       Keasadarn nurani dan tanggung jawab di hadapan Allah: sebagai muslim dan beriman kepada Allah, kita menyadari benar bahwa setiap tindak-tanduk langkah hidup kita di tiap detik yang berlalu akan dipertanggung jawabkan di hadapannya. Karenanya, kesadaran itu akan menjaga kita dari setiap perbuatan yang tiada manfaat, dan terus memotivasi kita untuk berbuat ibadah. Baik itu ibadah ritual, maupun sosial.

3.       Selalu mengedepankan risalah Islam: apa pun yang akan dilakukan seorang muslim, pandangannya jauh tertuju pada pesan dan nilai-nilai yang di bawa oleh agama Islam. Karena sejatinya, nilai luhur yang ada pada agama Islam tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Dan Islam selalu relevan menjadi rujukan setiap orang di setiap tempat dan de setiap waktu.

4.       Ilmu Pengetahuan: sebagai mana dikatakan dalam sebuah riwayat, siapa yang ingin mendapatkan dunia maka harus berilmu. Siapa yang ingin akhirat maka harus berilmu. Ilmu pengetahuan adalah lambing kemajuan suatu bangsa. Siapa yang dapat menguasainya, maka jayalah bangsa tersebut. Tiada yang bertentangan antara ilmu yang terlihat duniawi dengan ilmu yang terlihat ukhrawi. Karena sejatinya ilmu itu akan mengantarkan seseorang pada iman dan tauhid, serta kayakinan bahwa Allah adalah pemilik segalanya.

5.       Mendasari ilmu pengetahuan pada iman dan takwa. Sehingga semakin berkembang dan majunya ilmu, maka semakin meningkatnya iman dan ketakwaan umat.

6.       Berlaku adil: adil adalah lambang kebijaksanaan seseorang. Adil juga merupakan tujuan dari maqashid syariah islamiyah. Itu sebabnya, Allah menyanjung orang-orang yang berlaku adil dengan mendekati pada ketakwaan.

7.       Tidak memonopoli ilmu dan terbatas pada lapisan masyarakat tertentu.

8.       Menghormati para ulama sebagaimana seharusnya.

9.       Kesadaran umat terhadap pesan dan risalah luhur yang di bawa oleh al-Quran dan al-Hadits.

10.   Menolong orang-orang yang lemah dan tertindas serta membantu mereka berhijrah baik dari “negeri kafir” maupun berhijrah dari kondisi hidup yang jauh dari nilai-nilai keislaman.


11.   Berdakwah di jalan Allah tanpa mengharapkan imbalan dan tujuan duniawi lainnya.


Editor: Rizky Ahmad
Tuesday, 13 June 2017

Pendidikan Tanpa Negara: Beberapa Catatan Tentang KH Noer Alie

PENDIDIKAN TANPA NEGARA:
BEBERAPA CATATAN TENTANG KH NOER ALIE*

Luthfi Assyaukanie MA**


Salah satu kesulitan yang dihadapi setiap penulis atau peneliti yang ingin mendiskusikan gagasan pemikiran seorang tokoh besar adalah sumber-sumber yang menjadi rujukan penelitian tersebut. Kesulitan itu akan berlipat ganda jika sang tokoh yang diteliti tidak meninggalkan karya tulis, apalagi yang mau diteliti adalah sebuah gagasan pemikiran. Karena mustahil rasanya berbicara tentang sebuah gagasan pemikiran tanpa melibatkan teks.

Sumber-sumber tentang KH Noer Ali yang ada selama ini adalah buku-buku sekunder yang ditulis oleh sebagian peneliti atau mahasiswa dalam skripsi mereka. Itupun lebih banyak menekankan kepada sosok kepahlawanan KH Noer Alie dengan bumbu-bumbu cerita yang --sangat disayangkan-- lebih berbau mitos ketimbang fakta sejarah.

KH  Noer Alie sendiri, sejauh yang saya ketahui, tak meninggalkan karya tulis yang bisa menjelaskan kepada kita tentang gagasan dan pandangannya, baik tentang pendidikan maupun pemikiran lainnya. Peninggalan satu-satunya yang berkaitan dengan “gagasan pendidikan” adalah warisan fisik pondok pesantren Attaqwa yang hingga hari ini masih tegak berdiri. Tentu saja, kita tak bisa berharap banyak –atau juga tidak fair—menggali pemikiran-pemikiran KH Noer Alie semata-mata dari bangunan fisik tersebut.

Pengakuan orang banyak adalah rujukan paling sering yang diberikan seseorang jika ia ingin berbicara tentang kiprah dan gagasan pendidikan KH Noer Alie. Dalam komunitas verbal, argumentum ad populum semacam ini adalah suatu hal yang lumrah. Tapi, ketika kita ingin mendiskusikannya dalam tradisi literal, pengakuan-pengakuan itu harus diterjemahkan ke dalam logika ilmiah yang jernih dan bisa dipertanggungjawabkan.

Dengan bermodalkan pengalaman belajar langsung dari KH Noer Alie dan bergaul dengan teman-teman dan senior-senior selama di pesantren Attaqwa, saya memberanikan diri mendiskusikan gagasan pemikiran KH Noer Alie, khususnya yang menyangkut pendidikan. Saya tak ingin berpretensi bahwa saya mengetahui banyak hal tentang pemikiran beliau. Tapi, dengan mengajukan beberapa pertanyaan mendasar seputar persoalan ini, saya berharap dapat menjawab keingintahuan kita semua tentang gagasan pendidikan KH Noer Alie.

Pemikiran Liberal. Sebagaimana ulama dan tokoh agama sejamannya, KH Noer Alie merealisasikan gagasan pendidikannya dalam bentuk pondok pesantren. Tentu saja, pondok pesantren merupakan pilihan yang paling ideal pada saat itu untuk memberdayakan intelektualitas masyarakat. Karena, selain lebih bisa diterima masyarakat --karena sifatnya yang informal dan merakyat—pondok pesantren juga memiliki fungsi ganda (double function). Yakni bukan hanya sebagai tempat pengajaran, tapi juga sebagai tempat berlatih dan mempraktekkan ilmu yang didapat. Dalam bentuknya yang ekstrim, pondok pesantren bahkan dapat dijadikan markas perjuangan fisik melawan penjajah.

Dalam konteks kemerdekaan Indonesia, pilihan mendirikan pesantren, pada batas tertentu, bukan hanya pilihan edukasional, tapi juga pilihan perjuangan melawan kolonialisme. Sebagai tokoh pejuang, KH Noer Alie tentu menyadari betul apa fungsi pesantren bagi sebuah cita-cita kemerdekaan. Dengan sifatnya yang multifungsi itu, bagi KH Noer Alie, potensi pondok pesantren bisa diberdayakan untuk memenuhi tujuan teoritis (pendidikan) dan praktis (perjuangan fisik) sekaligus.

Ketika Indonesia telah mendapatkan kemerdekaannya dan perjuangan fisik tak lagi dibutuhkan, peran pondok pesantren pun memiliki porsi yang lebih besar bagi pemberdayaan intelektual. Dalam kondisi seperti ini, konsentrasi terhadap perbaikan sistem pembelajaran adalah sesuatu yang tak dapat dikesampingkan. Energi yang semula dihabiskan untuk meraih kemerdekaan harus dialokasikan untuk peningkatan mutu pendidikan. Di sinilah peran KH Noer Alie sebagai pendidik yang sesungguhnya dimulai.

Gagasan utama yang berkaitan dengan pemikiran pendidikan KH Noer Alie yang paling bisa dirasakan adalah bagaimana dia menyulap sebuah perkampungan agrikultural menjadi sebuah kawasan kultural di mana pondok pesantren --dan bukan lumbung-lumbung padi-- menjadi monumennya. Ujungmalang yang pernah dianggap sebagai perkampungan “antah-berantah” tiba-tiba menjadi sebuah “kota” dengan nuansa pendidikan yang kental. Semua itu, tak lain berkat hadirnya Attaqwa.
Berbicara tentang Attaqwa, kita tak bisa lepas dari sistem pendidikan di dalamnya. Sebagaimana pondok-pondok pesantren modern pada umumnya, Attaqwa berusaha menerapkan kurikulum pendidikan yang bukan hanya dapat menelurkan manusia-manusia yang pandai dalam bidang keagamaan, tapi juga pintar dalam bidang keilmuaan. Untuk itu, lembaga pendidikan ini berusaha menjalankan kurikulum “dunia-akhirat” secara ketat. Para siswa diajarkan ilmu-ilmu umum sama baiknya dengan ilmu-ilmu agama.

Sebagai pesantren modern, Attaqwa bukan hanya menggabungkan ilmu-ilmu keagamaan dan ilmu-ilmu umum secara hitam-putih. Dalam bidang keagamaan misalnya, lembaga pendidikan ini tak hanya menggunakan buku-buku klasik (kitab kuning) sebagai kajian utamanya, tapi buku-buku modern yang ditulis dalam bahasa Arab juga dijadikan rujukan utama. Saya masih ingat bagaimana lembaga itu mengajarkan al-Husun al-Hamidiyyah, sebuah kitab teologi yang dikarang oleh seorang tokoh modernis asal Lebanon, Husein al-Jisr (1845-1909). Alih-alih mengajarkan kitab klasik semacam al-Ibanah (al-Asy’ari), al-Irsyad (al-Juwayni), atau al-Aqaid (al-Nasafi), Attaqwa memilih kitab teologi modern yang ditulis oleh seorang tokoh yang didunia Arab cukup kontroversial karena gagasan-gagasan modernisnya.

Saya kira, KH Noer Alie secara khusus atau Attaqwa secara umum bukan tanpa alasan memilih jenis buku-buku semacam itu. Selain karena alasan metodologis, buku-buku teologis yang ditulis oleh orang modern tentu lebih cocok dan mengena dengan konteks kehidupan berteologi kaum muslim sekarang. Buat apa mempelajari doktrin-doktrin Islam 12 abad silam kalau tak mempunyai konteks teologisnya dengan apa yang dihadapi oleh kaum muslim modern?

Sebagai seorang alim yang pernah merasakan pendidikan di Timur Tengah yang cukup lama, bukan mustahil KH Noer Alie pernah merasakan aura pemikiran Islam yang sangat progresif dan dinamis ketika masih belajar di sana. Masa-masa awal abad ke-20 di kawasan Timur Tengah adalah periode yang disebut oleh Albert Hourani sebagai era liberal (liberal age) bagi pemikiran Islam. Pada saat inilah perdebatan seputar modernisme, sekularisme, otoritarianisme, dan tema-tema pemikiran lainnya secara luas dibicarakan.

Dengan memilih buku-buku yang “progresif” semacam itu, saya kira, KH Noer Alie memang secara sadar menginginkan para anak didiknya menjadi manusia yang liberal, progresif, dan dinamis. Sebagai orang yang pernah merasakan atmosfer “liberalisme Timur Tengah” KH Noer Alie berusaha menjadikan Attaqwa sebagai proyek intelektual yang dapat menelurkan manusia-manusia yang arif, bijak, dan mengerti persoalan yang dihadapinya.

Pendidikan Islam. Pengalaman Timur Tengah yang sangat membekas dalam diri KH Noer Alie dicoba terapkan dalam Attaqwa, lembaga pendidikan yang didirikannya. Secara formal, Attaqwa adalah lembaga pendidikan Islam yang berusaha menjalankan nilai-nilai keislaman dalam bidang pendidikan. Sejauh pengetahuan saya, KH Noer Alie sendiri tak pernah menjelaskan konsepnya tentang pendidikan Islam. Tapi kita bisa melihat pandangannya tentang persoalan ini dari bagaimana ia mendirikan, mengelola, dan mengembangkan Attaqwa.

Sebagaimana para pendidik muslim lainnya, KH Noer Alie meyakini bahwa salah satu tujuan pendidikan adalah untuk menciptakan manusia paripurna (insan kamil) yang dapat berguna bukan hanya bagi agama dan masyarakatnya, tapi juga mampu berkiprah bagi bangsa dan negaranya. Sebagai seorang pejuang, KH Noer Alie tentu mengerti betul apa makna dan peran seorang warga negara bagi bangsanya.

Jika kita berbicara tentang sistem pendidikan Islam sebagai sebuah konsep, maka kita tak lepas dari pembicaraan mengenai orientasi pendidikan secara umum. Paling tidak, ada dua orientasi pendidikan yang berjalan selama ini. Pertama, orientasi kepada negara (state-centered orientation). Dalam orientasi ini, pendidikan diposisikan sebagai sebuah alat untuk memproduksi warga negara yang baik (good citizen). Sebagai wadah yang bertanggungjawab terhadap keamanan dan kenyaman semua warga, negara merasa perlu mengorientasikan pendidikan yang diselenggarakannya untuk mencetak manusia-manusia yang taat hukum. Pendidikan dalam konteks ini bersifat tunduk kepada kepentingan negara, dan bukan pada kepentingan lainnya.

Para pendidik yang berorientasi kepada negara menyatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial, sedangkan ilmu pengetahuan merupakan hasil konstruksi sosial. Karena itu, pendidikan harus diorientasikan kepada kebutuhan-kebutuhan sosial yang bersifat fungsional. Dalam bentuk kecil, “sosial” adalah masyarakat pedesaan atau perkotaan. Tapi dalam bentuk besarnya, masyarakat adalah negara.

Kedua, orientasi kepada individu (person-centered orientation). Dalam orientasi ini, pendidikan ditekankan kepada penggalian dan pemberdayaan potensi individual setiap orang. Tujuan akhir dari orientasi ini adalah memproduksi manusia yang baik (good man) dan bukan hanya warga yang baik (good citizen).

Sebagian besar sistem pendidikan modern di Indonesia berorientasi kepada negara. Sekolah-sekolah dan perguruan-perguruan tinggi negeri, bisa dipastikan, adalah lembaga-lembaga pendidikan yang mengorientasikan dirinya kepada negara. Sebagian lembaga pendidikan swasta, berupaya mengurangi dominasi dan kontrol negara. Sedangkan sebagian lainnya berusaha menjadi otonom dan independen dari pengaruh negara.

Pondok pesantren pada umumnya adalah lembaga pendidikan yang berorientasi kepada perbaikan individu sebagai individu (al-insan ka ma huwa). Sebagai institusi yang tidak didanai dan dikontrol oleh negara, pondok pesantren sangat peduli dengan konsep pengembangan diri (personal development) sebagai landasan kemajuan, baik bagi setiap individu, masyarakat, maupun negara.

Beberapa ahli dan pakar pendidikan di Barat, seperti Abraham Maslow, A.S Neill, dan Jean Paul Sartre meyakini bahwa orientasi kepada individu dalam bidang pendidikan jauh lebih baik daripada orientasi kepada negara.

Implikasi dari penerapan dua sistem yang berbeda itu tentu saja tidak sama. Pada sistem yang berorientasi kepada negara, pendidikan diarahkan sebagai alat untuk mensosialisasikan dan mengkampanyekan kebijakan-kebijakan negara. Para siswa adalah warganegara yang harus tunduk kepada sistem dan aturan yang dibuat oleh negara. Mereka dilatih bagaimana menjadi warganegara yang baik, warga yang taat hukum, aturan, dan perundang-undangan yang dibuat oleh negara.

Sementara itu, pada sistem yang berorientasi kepada individu, pendidikan diarahkan menjadi pusat pemberdayaan manusia sebagai individu yang baik (good man) pada satu sisi, dan sebagai warga negara yang baik (good citizen) pada sisi lain. Penekanan pada “good man” dan bukan pada “good citizen” karena istilah yang pertama sudah mengimplikasikan istilah yang kedua, dan tidak sebaliknya.

Sebagai bagian dari sistem pendidikan yang otonom dan tidak mengikuti kurikulum pemerintah, Attaqwa sejak didirikan oleh KH Noer Alie adalah sebuah lembaga pendidikan yang berorientasi kepada individu. Secara sadar, KH Noer Alie memilih untuk membuat kurikulum sendiri, karena kurikulum yang dibuat pemerintah –paling tidak hingga ketika beliau masih hidup—dinilai tidak memadai. Meskipun bayaran untuk sikap semacam ini sangat besar. Para siswa tidak memiliki ijazah formal dan terancam tak bisa melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi, akibat tak memiliki ijazah negeri yang diakui negara.

Penolakan KH Noer Alie terhadap kurikulum nasional, seharusnya tidak dilihat secara hitam-putih. Pilihan-pilihan terhadap hal itu, saya kira, sangat dipengaruhi oleh zaman di mana ia hidup. Di tengah hegemoni negara yang represif dan cenderung mempersempit ruang gerak setiap kreatifitas individu, “pemberontakan” adalah pilihan yang sangat menggoda. Dan KH Noer Alie tidaklah sendirian. Sebagaimana kita lihat, hampir semua pondok pesantren atau lembaga-lembaga pendidikan yang memiliki “persoalan sejarah” dengan kekuasaan (akibat warisan kolonialisme), menolak kurikulum nasional.

Dengan kata lain, pilihan KH Noer Alie itu bersifat kontekstual sesuai dengan tuntutan zamannya. Adalah sebuah kemunduran, saya kira, jika para penerusnya sekarang tetap mempertahankan ijtihad-ijtihad pendidikan beliau. Alasannya sederhana, zaman telah berubah, kondisi telah berbeda, dan tuntutan tidak sama lagi seperti dulu.





* Disampaikan dalam seminar sehari Refleksi Pemikiran dan Tindakan KH. Noer Alie. Islamic Centre Bekasi, 30 September 2001.
** Staf pengajar di Fakultas Falsafah dan Peradaban, Universitas Paramadina, Jakarta, dan pengelola Jaringan Islam Liberal (http://www.islamlib.com).
Monday, 12 June 2017

Perjalanan KBIH Attaqwa ke Mesir

Alhamdulillahirobbil ‘alamiin, pada hari Sabtu 8 April 2017 rombongan KBIH Attaqwa sampai di bumi kinanah dalam rangka Umroh plus Brunei Darussalam dan Mesir. Namun, tidak semua jamaah mengikuti agenda ke Mesir. Di antara jama’ah yang ikut ke Mesir adalah guru kita: KH. Ahmad Rosyidi HS dan istri, H. Nur Anwar Amin, Lc., MA., Ahmad Habibulloh beserta istri dan ibu mertuanya.

Rombongan KBIH Attaqwa tiba di bandara Internasional Kairo sekitar pukul 14:00 clt. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Masjid dan Makam Imam As-Syafi’ie serta ziarah ke makam para ulama di sekitar daerah tersebut.

Setelah semua rentetan acara pada hari pertama itu telah selesai, rombongan menuju hotel untuk check in dan bersiap menghadiri acara silaturrahmi bersama anggota Ikatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Attaqwa Mesir (IKPMA Mesir).

Tepat pukul 9 malam clt. Rombongan KBIH Attaqwa sampai di Sekretariat IKPMA Mesir, terdengar bunyi hadroh saling bersahutan menyambut dengan gembira guru-guru kita. Dimulailah acara kita pada malam tersebut, rangkaian demi rangkaian kita lewati setiap menitnya hingga sampailah kita ke penghujung acara yaitu nasihat dan motivasi yang disampaikan oleh bapak KH. Ahmad Rosyidi HS.

Selera humoris yang disampaikan beliau sangat menyentuh hati para mujtahid/ah. Bahkan ada beberapa pesan yang terngiang di telinga kami sampai saat ini, beliau bilang: “Nak, kalian tinggal di Negara Arab, maka diusahakan berbicaralah dengan bahasa arab. Kenapa? Agar ketika pulang ke Indonesia kalian sudah terbiasa untuk menggunakan bahasa Arab”.

Ust. H. Nur Anwar Amin, Lc., MA. Menambahkan dengan menggambarkan kondisi ibu kota Negara kita saat ini, langsung saja beliau bertanya: “Apa tugas kalian di Negeri yang jauh ini? Kita semua minta doa terbaik dari kalian agar siapapun yang terpilih menjadi gubernur bisa menjadikan Jakarta lebih baik lagi”.

Merupakan suatu kebahagiaan ketika seorang anak dikunjungi oleh orang tuanya, hal itulah yang juga dirasakan anggota IKPMA Mesir pada malam itu, keakraban dan suasana yang hangat menyelimuti sekretariat IKPMA Mesir. bagai tertimpa durian runtuh, bukan hanya dikunjungi tetapi anggota IKPMA Mesir juga mendapatkan sekoper oleh-oleh dari Indonesia.

Di hari berikutnya rombongan KBIH Attaqwa mengunjungi salah satu dari 7 keajaiban dunia, yang tak lain dan tak bukan adalah Pyramida yang terletak di daerah Giza, Mesir. Dilanjutkan dengan perjalan ke Museum tahrir dan Masjid Amru bin Ash (masjid tertua di Mesir).
Kala senja mulai terlihat, langkah para guru terhenti di Masjid Sayyidina Husein untuk berziarah dan dilanjutkan dengan berburu oleh-oleh di pasar Internasional Khan el Khalili yang ditemani oleh beberapa anggota IKPMA Mesir. Perjalanan hari itu ditutup dengan kunjungan ke masjid Al-Azhar Kairo yang pada saat ini dalam proses renovasi.

Mentari pagi menampakkan keindahannya di hari itu, dimulailah perjalanan rombongan KBIH Attaqwa ke kota Alexandria yang menempuh waktu kurang lebih selama 3 jam lamanya. Megelilingi masjid dan peninggalan-peninggalan yang ada di kota tepi pantai tersebut.

Esok harinya, rombongan KBIH Attaqwa kembali ke tanah air tercinta Indonesia

By : Ahmad Zayadi Masykur dan Ulyasari Awfiya

Wednesday, 26 April 2017

Kepemimpinan Antara Tsiqah dan Khibrah

Oleh; Fairuzzimaami


إن الله يأمركم أن تؤدوا الأمانات إلي أهلها, وإذا حكمتم بين الناس أن تحكموا بالعدل, إن الله نعما يعظكم به, إن الله كان سميعا بصيرا
“Sesungguhnya Allah telah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sesungguhnya Allah maha mendengar, maha melihat” (Q.S. An Nisa: 58)

Sang tercinta Muhammad Saw. telah mengajari, apabila kita dihadapkan suatu perkara dan diperintahkan untuk memilih seseorang yang akan kita percayakan untuk mengurus perkara umat, maka kita diajarkan untuk tidak mempercayakannya kecuali kepada mereka yang dapat memberikan manfaat kepada umat.

Manusia terbagi ke dalam tiga kelompok; kelompok pertama adalah mereka yang kita kenal sebagai orang yang dapat dipercaya (tsiqah), tetapi tidak mempunyai pengalaman (khibrah). Kelompok kedua adalah mereka yang kita kenal sebagai pemilik khibrah, tetapi kita tidak melihat sifat tsiqah padanya. Sedangkan kelompok yang ketiga adalah mereka yang menempati posisi dan derajat tertinggi, yaitu mereka yang mengumpulkan kedua sifat tersebut dalam dirinya di waktu yang sama.

Apabila kita diberikan kesempatan untuk memilih seseorang untuk mengurus suatu perkara, sedangkan di sekitar kita banyak orang yang mumpuni untuk mengatasi perkara tersebut, maka pilihlah mereka yang memiliki sifat amanah (tsiqah), agar tidak terjadi pengkhianatan di dalam amanah tersebut. 

Jika seiring berjalannya waktu keadaan mulai membaik, maka kita cari mereka yang berpengalaman untuk mencapai tujuan apa yang ingin kita capai.

Inilah petunjuk sang kekasih Muhammad Saw. dalam setiap pekerjaannya dan di seluruh fase kehidupannya.

Ketika Rasulullah Saw. meninggal dunia, umat ketika itu tidak dalam keadaan kosong dari pemerintahan, tidak juga dalam masalah kemasyarakatan, justru umat Islam ketika itu dalam posisi gemerlang,  terdengar namanya keseluruh dunia dan dibanggakan di antara umat seluruh alam.

Setelah Rasulullah wafat, kepemimpinan kemudian berada di tangan Abu Bakar As Shiddiq ra. di samping Abu Bakar As Shiddiq ketika itu adalah para tokoh-tokoh besar, mereka adalah hasil didikan Sang Kekasih Nabi Muhammad; Rasulullah Saw, di antara mereka ketika itu adalah Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Usman bin Affan, mereka senantiasa berada di garda terdepan bersama Abu Bakar dalam menjalankan roda kekhalifahan.

Sampai sebuah masalah menimpa umat Islam. Ketika itu Abu Bakar mendapati Al Quran sedang dalam bahaya. Al Quran adalah undang-undang umat, Al Quran adalah bagian paling penting dalam membangun sebuah masyarakat. Banyak para penghafal Al Quran yang mati syahid di atas debu tanah Yamamah. Datanglah Umar bin Khattab kepada Abu Bakar As Shiddiq, “Wahai Abu Bakar, aku ingin mengusulkan suatu perkara kepadamu, dan aku berharap engkau tidak menentangku dalam masalah ini.”

“Apa yang ingin engkau katakan wahai Umar bin Khattab?” jawab Abu Bakar. Umar berkata, “Ketahuilah wahai Abu Bakar, Al Quran yang merupakan pelindung umat dalam posisi bahaya. Dan aku mengusulkan agar Al Quran dikumpulkan dalam satu mushaf.”

Abu bakar berdiri tegak dan berkata,  “Wahai Umar! Sesungguhanya aku menaruh kepercayaan kepadamu, dan aku yakin bahwa engkau mempunyai pengalaman dalam masalah ini, akan tetapi wahai Umar bin Khattab, bagaimana kita melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah”.

Umar berkata, “Demi Allah wahai Khalifah Rasulullah, sesungguhnya dalam pengumpulan Al Quran tersebut terdapat kebaikan.”

Terjadilah perdebatan antara Abu Bakar dan Umar bin Khattab, karena masalah yang diperdebatkan bukan masalah enteng, ini menyangkut Al Quran, mahkota dan benteng umat Islam.

Begitulah dialog terus berlalu sampai Abu Bakar puas dengan dalil yang diutarakan oleh Umar ra., sekarang tinggallah pengambilan keputusan. Sesungguhnya sebuah keputusan tidak bisa diambil melainkan setelah kita ukur suatu pendapat dengan pendapat yang lainnya.

Abu Bakar yang kala itu menjadi Khalifah mengambil keputusan, “aku akan mencari terlebih dahulu para ahli tsiqah (orang yang bisa dipercaya), kemudian Aku akan mencari mereka yang berpengalaman (ahli khibrah).  Karena tsiqah dan khibrah adalah dua perkara yang sama-sama penting. Karena khibrah tanpa tsiqah, akan menimbulkan pengkhianatan, sedangkan tsiqah tanpa khibrah, akan terjadi penyia-nyiaan tanggungjawab dan membawa umat Islam ke jurang kebinasaan”.

Selanjutya, Abu Bakar mengirim utusan untuk memanggil Zaid ibn Tsabit Al Anshariy, kita akan segera tahu kenapa Abu Bakar memilih Zaid.
Seolah Abu Bakar menjawab, karena perkara ini adalah tanggung jawab yang membutuhkan kepada kegigihan, kekuatan dan tenaga yang besar dan hal ini hanya bisa dilakukan oleh seorang pemuda.

Wahai para pemuda! Wahai engkau yang telah Allah berikan kesehatan dan kematangan! Tanggungjawab untuk menjaga agama ada ditangan kalian. Mengetahui agama ini secara sempurna adalah tanggung jawab kalian.

Pemuda adalah lambang kekuatan, dan Zaid adalah pemuda. Inilah alasan yang pertama.

Alasan kedua Abu bakar memilih Zaid, karena di samping ia adalah seorang pemuda,  Allah juga telah memberikan kepadanya karunia yang besar, berupa kepandaian. Ketika seorang pemuda bergerak, maka akal lah yang akan mengikatnya.

Yang ketiga: “Kami tidak menaruh curiga padamu”. Berapa banyak mereka yang pandai, tetapi kami ragu jika saja mereka berkhianat. Sedangkan engkau wahai Zaid, engkau adalah orang yang tsiqah. Tidak sedikitpun kami meragukan akan sifat amanahmu.

Tinggal satu perkara lagi, yaitu khibrah.  “Dan engkau menulis wahyu untuk Rasulullah Saw.” Menulis wahyu bukan sesuatu yang baru lagi bagimu wahai Zaid, tetapi pengalamanmu telah diakui oleh Rasulullah Saw.

-----------------------------------------------------

Khuzaimah bin Tsabit; Syahadat Ar Rajulain

Pada suatu hari Zaid pulang dalam keadaan murung, Abu Bakar bertanya, “ Wahai Zaid, apa yang terjadi denganmu? Apa yang terjadi sehingga warna kulitmu berubah seperti itu?” Zaid berkata: “Sesungguhnya aku mendapati dua ayat dari pada Al quran, yaitu:

لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالْمؤمنين رءوف رحِيم. فإن تولوا فقل حسبي الله لا إله إلا هو عليه توكلت وهو رب العرش العظيمِ.
(Q.S At Taubah: 128-129)

Kedua ayat ini hanya aku dapati dari seorang laki-laki yang bersaksi bahwa ia menuliskan keduanya dihadapan Rasulullah. Abu Bakar bertanya, “Siapakah dia?”. “Dia adalah Khuzaimah bin Tsabit.” Jawab Zaid. Abu Bakar berkata “Hal itu tidak masalah, karena kami menjadikan syahadah (persaksian) seorang Khuzaimah seperti syahadah (nilai persaksian) dua orang.” “Mengapa demikian?” Ia berkata, “Dengarkanlah kisah berikut ini, suatu hari Rasulullah berjalan sendirian di suatu jalanan Madinah, tiba-tiba datang seorang arab badui dan bersamanya seekor kuda. Ia berkata kepada Nabi Saw. “ Wahai saudaraku maukah engkau membeli kudaku ini" Rasulullah Lalu bertanya, “Berapa engkau ingin menjualnya?” lalu mereka sepakat dengan suatu harga.

Rasulullah berkata, “Tunggulah disini aku akan pulang kerumah mengambil uang”, Ketika Rasulullah sedang menuju kerumahnya datanglah seorang lainnya lagi, ia berkata kepada si pemilik Kuda, “ Apakah engkau ingin menjual kuda ini.” ia berkata “iya” “berapa?” lalu ia menyebutkan harga yang lebih tinggi dari harga yang ditawarkan oleh Rasulullah.

Sebelum ia sempat menyerahkan harga kuda tersebut, tiba-tiba Rasulullah datang. “Wahai Saudaraku bukankah engkau telah menjual kudamu untukku?” Orang arab tersebut mengatakan, “Aku tidak pernah melihatmu dan aku tidak pernah menjual apapun untukmu. Aku hanya menjual kepada laki-laki yang satu ini.” Lalu Rasulullah berkata, “Engkau telah menjualnya kepadaku.” Ia menjawab “Tidak, Aku sama sekali tidak menjualnya kepadamu, siapa yang menjadi saksimu bahwa aku telah menjualnya kepadamu?”

Lalu datanglah seorang laki-laki yang telah Rasulullah persiapkan untuk meriwayatkan dua ayat Al Quran darinya, yaitu Khuzaimah bin Tsabit.

Khuzaimah bin Tsabit berkata, “Aku Bersaksi untukmu wahai Rasulullah.” Lalu Rasulullah pergi menjauhi sipenjual bersama Khuzaimah bin Tsabit dan berkata, “ Bagaimana engkau bersaksi sedang engkau tidak bersama kami. ”Khuzaimah menjawab, “Aku tidak bersaksi atas perkataan dan pembicaraan kalian, akan tetapi aku bersaksi bahwa engkau adalah seorang yang jujur tidak pernah menipu, engkau dipercaya oleh Allah dari atas tujuh lapis langit.” 
Rasulullah berkata, “Sesungguhnya syahadah seorang Abu Huzaifah setara dengan syahadah dua orang laki-laki”.

Lihatlah, betapa sama sekali kita tidak menyangka, bahwa Rasulullah sedang mempersiapakan seorang laki-laki yang akan diriwayatkan darinya dua ayat Al Quran yang tidak ditulis oleh siapapun kecualinya.

Kita sebagai pemuda, terlebih lagi seorang thalibul ilmi,  yang telah mendapat kesempatan mengais ilmu di Al-Azhar demi menjadi lentera di tanah air, tsaqofah Islamiyah adalah persiapan yang akan menemani kita kapanpun, begitu juga amanah dan khibrah adalah bahan dasar dalam membentuk kepercayaan dalam diri ketika terjun di tengah masyarakat.

Inilah di antara kisah yang bisa kita jadikan pedoman untuk memilih pemimpin dan menjadi pemimpin nantinya. semoga kita akan diikuti dan disayangi oleh umat islam di setiap waktu dan kapanpun.



IKPMA-MESIR
Jaridah KREASI
Friday, 31 March 2017

Popular Post

Total Pageviews

- Copyright © IKPMA Mesir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -