Archive for July 2017

Persatuan Umat dalam Perspektif KH. Noer Alie


K.H. Noer Alie bersama K.H. Sholeh Iskandar dan Mohammad Natsir





PERSATUAN UMAT DALAM PERSPEKTIF K.H. NOER ALIE

I. MUKADDIMAH


Tidak ada yang meragukan kesuksesan K.H. Noer Alie dalam membangun dan memperjuangkan ummat Islam, terutama di daerah Bekasi. Perjuangan beliau kemudian memperoleh penghargaan berupa Bintang Mahaputtera dan pengakuan menjadi Pahlawan nasional. 

Tulisan ini lahir karena adanya keinginan untuk menggali pemikiran dan karya agung K.H. Noer Alie. Meski beliau tidak meninggalkan karya tulis yamg dapat dijadikan rujukan, tapi karyanya terserak di berbagai , khususnya di bidang sosial dan pendidikan. Dari situlah tulisan ini diangkat, termasuk dari cerita yang diperoleh dari pengalaman para keluarga,  dan para muridnya. Namun, kali ini, bahasan tulisan ini hanya manyangkit aspek ideologi dan persatuan, dua sisi yang dianggap penting saat ini. Semoga tulisan singkat ini dapat menjadi bahan renungan dan refleksi bagi kita , khususnya kalangan muda dan generasi berikutnya.


II. IDEOLOGI DAN PANDANGAN-DUNIA TAUHID

Ideologi dan  pandangan dunia-Tauhid (Islamic Worldview) dapat diartikan sebagai dasar dalam membangun masyarakat. Menurut K.H. Noer Alie, Islam adalah agama yang sempurna sehingga memiliki ideologi sebagai penafsiran as ajaran-ajarannya yang bersifat abadi dan final. Implementasi ideologi menurut beliau adalah “Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur” (Q.S. Saba: 12). 

Menurut K.H. Noer Alie Islam adalah agama yang kaafah, lengkap. Ia meliputi seluruh aspek kehidupan. Karena ia ditujukan untuk kesejahteraan manusia ia memiliki prinsip yang dijadikan dasar dalam membangun masyarakat. Prinsip-prinsip itu yang dijadikan ideologi. 

Ideologi dan pandangan-dunia (Worldview) ummat Islamadalah kalimat Tauhid. Kalimat tauhid ini harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari, baik kehidupan agama, politik, ekonomi, maupun sosial-budaya. Berpegang pada kalimat Tauhid laa ilaaha illallah itu memiliki makna:


√ Tidak ada yang patut disembah kecuali Allah 
√ Tidak ada tempat meminta kecuali Allah 
√ Tidak ada pemberi rizki kecuali Allah 
√ Tidak ada hukum yang adil kecuali hukum Allah 
√ Tidak ada bencana yang terjadi kecuali dengan izin Allah


Karena itu apabila ummat Islam ingin maju, maka tidak ada pilihan kecuali menjadikan Allah sebagai tujuan pembentukan masyarakat. 

Dalam sebuah masyarakat yang belum memahami Islam sebagai agama yang kaffah, maka ideologi Islam harus diperjuangkan menjadi dasar meskipun risiko yang muncul adalah kemungkinan akan dimusuhi lawan dan dikucilkan teman-teman.


Keteladanan Perjuangan Ideologi

Di masa Orde Baru, K.H. Noer Alie mengalami sebuah benturan , ketika harus menerima Asas Tunggal. Tapi ketika arus politik itu tak bisa lagi dihindari, K.H. Noer Alie menyebut hal itu sebagai kekalahan ulama dan umat Islam pada umumnya. Sikap beliau saat itu menolak memimpin lembaga yang asasnya Pancasila.

Lembaga yang sejak didirikan dan dipimpinnya sendiro yaitu Yayasan Pembangunan, Pemeliharaan dan Pertolongan Islam (YP3I) diubah namanya menjadi Yayasan , dan beliau sendiri mengundurkan diri dari jabatan Ketua Yayasan. Hal ini dilakukannya sebagai sikap konsistensi menolak pemberlakuan asas tunggal selain asas Islam dalam organisasi kemasyarakatan.

Dalam proses, beliau memang bukan pasrah berdiam diri. K.H. Noer Alie memberikan sikap terbuka di depan Fraksi ABRI tentang penolakannya atas asas tunggal. Hal ini dilakukan beliau sebagai cermin penolakan atas RUU Keormasan yang di antara isinya adalah pemnerlakuan asas tunghal bagi kehidupan sosial dan politik. Menurut beliau, asas tunggal akan memasung kebebasan masyarakat dalam memilih dasar kehidupan.

Pada tahun 1986, bersama teman-temannya, K.H. Noer Alie selaku ketua BKSPP membuat pernyataan politik yang isinya menolak rencana diberlakukannya Asas Tunggal dalam organisasi massa.

Untuk memperkuat pemahaman (dan resistensi) masyarakat terhadap ancaman akidah -terutama asas tunggal- sejak tahun 1985 K.H. Noer Alie melakukan pengajian keliling di masjid-masjid di sekitar Kabupaten Bekasi. Pengajian keliling ini disambut dengan antusias oleh segenap masyarakat Bekasi yang memang ingin mendengarkan ceramah beliau, tetapi selalu tidak sempat menghadiri pengajian beliau di masjid Attaqwa, Ujungharapan, tempat beliau mengajar pada setiap malam Minggu.

Tidak hanya masalah Asas Tunggal, sebagai praktisi politil Masyumi, K.H. Noer Alie dan teman-temannya melakukan walk out dari sidang konstituante di saat pembahasan Demokrasi. Sebagai ulama, beliau setuju demokrasi, dan dalam banyak hal ia memang menunjukan sikap sebagai seorang yang kental berdemokrasi. Tapi ketika Bung Karno mencoba memaksakan penafsiran demokrasi dengan kehendaknya sendiri, yakni demokrasi terpimpin, K.H. Noer Alie bersama Masyuminya melakukan walk out.

Dalam penolakannya terhadap PORKAS (perjudian terselubung melalui simbol olah raga), K.H. Noer Alie menggalang sikap penolakan itu. Kapasitasnya sebagai ketua BKSPP (Badan Kerjasama Pondok Pesantren) dimanfaatkan untuk melahirkan sikap penolakan itu, yamg ditandatangani oleh ratusan ulama, khususnya ulama dari Jawa Barat.

III. PERSATUAN UMAT DALAM PANDANGAN K.H. NOER ALIE

Lahir sebagao bagian dari masyarakat desa,  K.H. Noer Alie memang tidak melepaskan dirinya dari tradisi-tradisi masyarakat desa yang berciri kolektivitas. Dengan keyakinan idealnya itu, K.H. Noer Alie menggalang persatuan umat. Dari level yang tinggi misalnya mengakomodasi tokoh-tokoh NU dan Muhammadiyah, sampai aksi langsung menggerakkan kehidupan masyarakat untuk bersatu padu.
Persatuan merupakan jalan hidup K.H. Noer Alie. Beliau senantiasa menekankan pentingnya persatuan umat demi berhasilnya suatu tujuan.

Prinsip Tentang Persatuan

Agar berhasil mencapai tujuan, umat Islam harus bersatu. Tiak ada tujuan yang dapat dicapai apabila umat Islam terpecah belah dan berseteru. Bagi K.H. Noer Alie, persatuan hanya berarti apabila ditujukan untuk dan berada di atas semua golongan. Hal ini berarti adanya pengakuan terhadap asumsi bahwa umat terdiri dari berbagai golongan dan aliran.

Menurut K.H. Noer Alie, persatuan hanya bisa terwujud apabila setiap pihak mwmberikan sumbangsih dan siap berkorban. Apabila ada pihak yang mementingkan (mendahulukan) kepentingannya sendiri padahal kepentingan itu mengharuskan pengorbanan kepentingan itu, maka rsatuan yang dicita-citakan tidak akan terwujud.

Keteladanan Membangun Persatuan Umat

Banyak contoh yang dapat dilihat dalam kehidupan K.H. Noer Alie yang menunjukan bahwa beliau amat mementingkan persatuan di antara umat Islam. Misalnya dalam persatuan di bidang politik, bersama pemimpin Islam lainnya beliau ikut mendirikan Partai Masyumi sebagai wadah satu-satunya umat Islam. Sebagaimana dimaklumi, Masyumi kemudian menjelma sebagai partai Islam yang besar dan kuat, disegani kaqan dan lawan.

Setelah Masyumi membubarkan diri karena tekanan rezim Orde Lamapada tahun 1960, beliau tetap menginginkan ada partai tunggal bagi umat Islam. Cita-cita itu terakomodasi dengan adanya fusi partai Islam dalam PPP pada tahun 1973. Karena merasa adanya harapan dalam partai hasil fusi ini beliau pernah ikit dalam salah satu kampanye di Bekasi.

Sikap tegasnya tidak membuat orang sakit hati. Misalnya Adam Malik (Menlu saat itu) berkunjung ke Ujungharapan (waktu itu masih bernama Ujungmalang) ia menawarkan kepada K.H. Noer Alie dua hal: Pertama, ikut ke dalam partai di mana Adam Malik menjadi ; dan kedua, mengganti nama kampung Ujungmalang menjadi Ujungharapan. Beliau menolak tawaran yang pertama, tapi menerima dengan senang hati tawaran yang kedua. Hal ini dikarenakan beliau merasa bahwa beliau memiliki teman di berbagai partai, termasuk yang ada dalam parta , sehingga apabila beliau ikutndalam salah satunya, maka teman di partai lain akan menjaga jarak.

Contoh lain ketika pulang dari Makkah, yang dilakukan oleh K.H. Noer Alie adalah membangun masjid Attaqwa. Masjid ini gabungan dari dua masjid, yakni yang dipimpin Guru Mugni (di Ujungmalang Kidul yang saat ini menjadi Masjid Ghair Jami Annur)  dan masjid yang dipimpin H. Anwar (di Ujungmalang Lor yang saat ini menjadi Masjid Albaqiyatus Shalihat). Beliau kemudoan mengembangkan konsep masjid dalam membangun masyarakat, dengan mendirikan mushalla-mushalla di bawah naungan Dewan Masjid Attaqwa.

Kepada para muridnya, K.H. Noer Alie berpesan agar menghindarinmasalah furu'iyah untuk enjaga kekompakan dan persatuan dengan teman-teman lain yang berbeda mazhab fikih. Hal ini bertujuan untuk memelihara persatuan di antara teman-teman yang memperjuangkan Islam. Persatuan umat bagi K.H. Noer Alie menjadi lebih penting daripada sekedar persoalan-persoalan furu'iyah.

Pada tahun 1968, K.H. Noer Alie turut mendirikan Majelis Ulama se-Jawa Barat. Seiring berdirinya Majelis Ulama di Jawa Barat, beberapa provinsi kemudian mengikuti jejak Jawa Barat,  misalnya Sumatera Barat, Sumateta Selatan dan beberapa daerah lain mendirikan majelis-majelis ulama di tingkat provinsi. Dari Majelis Ulama di daerah-daerah inilah pemerintah Orde Barukemudian menggiringnya menjadi Majelis Ulama Indonesia dan Buya Hamka terpilih sebagai ketua umumnya yang pertama.

K.H. Noer Alie juga mendirikan Pesantren Bahagia di Bekasi. Lokasi pesantren itu terletak di Kampung Dua Ratus, Bekasi, yang sekarang menjadi markas Kodim 0507. Yang menarik dari pesantren ini adalah, K.H. Noer Alie melibatkan beberapa guru darinMuhammadiyah dan NU, direkrut secara seimbang. Misalnya tetdapat nama K.H. Abdurrahman Shodri, K.H. Muhajirin, dan K.H. Abu Bakar dari unsur NU. Sedangkan Anis Taminuddin, Samani dll, dari unsur Muhammadiyah. Sebuah upaya pemersatuan umat tampak begitu kental di pesantren ini.

Pada tahun 1951, berdiri lagi Yayasan Pembangunan, Pemeliharaan dan Pertolongan Islam, disingkat YP3I. Salah satu amal usahanya adalah mendirikan lembaga pendidikan. Ada pesantren putera dan puteri, ada ibtidaiyah dll. YP3I berubah menjadi Yayasan Attaqwa pada tahin 1986 karema adanya usulan dari intern dalam rangka penyeragaman nama di lingkungan perguruan.

Alhasil, begitu banyak jejak peninggalan K.H. Noer Alie yang bisa menginspirasikan setiap orang. Tapi seperti dipesankan K.H. Amin Noer, mengenang perjuangan K.H. Noer Aliebbisa dilakukan dengan membangun semangat juangnya, mengembangkan dasar-dasar pemikiran positifnya.

IV. KHATIMAH

K.H. Noer Alie adalah contoh kehidupan sosok pemimpin yang memiliki ideologi tegas dan lugas. Sedangkan alat untuk memperjuangkannya adalah persatuan umat. Tanpa persatuan umat, ideologibtidak akan bisa mencapai tujuannya. Ideologi yang diperjuangkan K.H. Noer Alie adalah terlaksananya syariah Islam dalam rangka membentuk negeri yang makmur dan sejahtera yang diridhai Allah Swt. Untuk bisa mencapai cita-cita itu, para penerus hendaknya bisa melakukan berbagai pengembangan dan pembaruan-pembaruan agar dasar-dasar pemikiran K.H. Noer Alie lebih berkembang. 


Sumber: Persatuan Umat dalam Perspektif KH. Noer Alie oleh Majelis Mudzakaroh Attaqwa 
Saturday, 8 July 2017

Popular Post

Total Pageviews

- Copyright © IKPMA Mesir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -